• Jelajahi

    Copyright © Media Online
    Best Viral Premium Blogger Templates

    ISPU Tebo di Level 133, Kesehatan Siswa Jadi Sorotan DPRD

    JambarPost
    9/14/2026, 17:22 WIB Last Updated 2026-09-14T10:22:24Z


    Jambarpost.com, Tebo – Kualitas udara di Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi, kembali menjadi perhatian. Berdasarkan data pemantauan di Stasiun Pemantau Bedaro Rampak, Kecamatan Tebo Tengah, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) tercatat mencapai 133 pada Senin, 14 September 2026, sekitar pukul 10.00 WIB.

    Angka tersebut menempatkan kualitas udara di wilayah Tebo dalam kategori tidak sehat. Parameter PM2.5 tercatat berada pada level 133, sementara dalam klasifikasi ISPU, rentang nilai 101 hingga 200 masuk kategori tidak sehat.

    Kondisi tersebut menunjukkan kualitas udara telah berada pada level yang berpotensi memberikan dampak terhadap kesehatan manusia maupun lingkungan. Masyarakat pun diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama kelompok yang lebih rentan terhadap paparan polusi udara.

    Kelompok rentan tersebut antara lain anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki gangguan atau penyakit pernapasan.

    Di tengah kondisi tersebut, Ketua Fraksi Golkar DPRD Kabupaten Tebo, Liga Marisa, meminta persoalan kualitas udara tidak hanya dipandang sebagai isu lingkungan, tetapi juga harus mempertimbangkan dampaknya terhadap aktivitas masyarakat, khususnya dunia pendidikan.

    Liga mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila tidak terdapat keperluan mendesak. Ia juga mengingatkan masyarakat untuk menggunakan masker serta tidak melakukan pembakaran lahan yang berpotensi memperburuk kondisi udara.

    “Kondisi udara yang tidak sehat ini harus menjadi perhatian kita bersama. Masyarakat kami imbau mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker dan tidak melakukan pembakaran lahan yang dapat memperburuk kualitas udara,” kata Liga.

    Menurut Liga, kondisi kesehatan peserta didik juga perlu menjadi perhatian apabila kualitas udara terus mengalami penurunan. Ia meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tebo mempertimbangkan langkah yang tepat apabila kondisi udara dinilai tidak lagi memungkinkan bagi siswa menjalani pembelajaran tatap muka secara normal.

    “Anak-anak, lansia dan masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan harus lebih waspada. Kalau tidak ada keperluan mendesak, sebaiknya aktivitas di luar rumah dikurangi sampai kondisi udara kembali membaik,” ujarnya.

    Liga menilai, apabila kualitas udara semakin memburuk dan aktivitas pembelajaran tatap muka dinilai berisiko terhadap kesehatan peserta didik, pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dapat mempertimbangkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau sistem daring sebagai salah satu opsi.

    Meski demikian, keputusan tersebut, kata dia, harus didasarkan pada perkembangan kualitas udara serta kondisi di lapangan.

    “Kalau memang harus dilakukan pembelajaran jarak jauh, maka Dinas Pendidikan dan Kebudayaan harus mengambil langkah yang tepat demi kesehatan peserta didik,” tegasnya.

    Selain berdampak terhadap kesehatan, kondisi udara yang memburuk juga menjadi pengingat pentingnya upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

    Liga mengajak masyarakat tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Menurutnya, asap hasil pembakaran lahan dapat memperburuk kualitas udara sekaligus meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi masyarakat.

    “Yang paling penting jangan melakukan pembakaran lahan. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk menjaga lingkungan dan kesehatan masyarakat Tebo,” pungkasnya.(DidiJP)


    Komentar

    Tampilkan