Kegiatan kebudayaan tersebut dibuka secara resmi oleh Gubernur Jambi Al Haris. Prosesi pembukaan ditandai dengan pemukulan rebana yang menjadi simbol dimulainya rangkaian kegiatan seni, pelestarian budaya sekaligus promosi potensi pariwisata Kabupaten Bungo.
Suasana pembukaan semakin semarak dengan hadirnya berbagai penampilan khas daerah. Sejumlah kesenian tradisional, pertunjukan tari dan musik, peragaan busana berbasis wastra daerah hingga pawai budaya turut mewarnai rangkaian acara.
Momentum tersebut sekaligus menjadi kesempatan bagi Kabupaten Bungo untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan kreativitas masyarakatnya kepada publik yang lebih luas.
Acara itu turut dihadiri unsur Forkopimda Provinsi Jambi dan Forkopimda Kabupaten Bungo. Sejumlah kepala daerah dan perwakilan pemerintah kabupaten/kota di Provinsi Jambi juga tampak hadir, di antaranya Wali Kota Jambi, Bupati Merangin, Wakil Bupati Tebo, Wakil Bupati Batanghari serta Wakil Bupati Sarolangun.
Kehadiran para kepala daerah tersebut memperlihatkan bahwa kebudayaan memiliki posisi penting dalam memperkuat identitas daerah sekaligus membangun hubungan dan kolaborasi antarpemerintah daerah di Provinsi Jambi.
Bupati Bungo H. Dedy Putra, S.H., M.Kn., menyampaikan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan menampilkan kesenian daerah. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi bagian dari langkah pemerintah daerah untuk mempertahankan warisan budaya agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Menurut Dedy, budaya Bungo harus terus berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai yang menjadi ciri khas daerah.
“Kita ingin budaya Bungo tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Budaya harus tetap hidup, dikenal dan berkembang di tengah masyarakat, terutama oleh generasi muda. Karena itu, kegiatan seperti ini menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali kekayaan budaya Bungo kepada masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tema “Tak Lekang Budayo Diterpa Zaman” menggambarkan tekad agar perkembangan zaman tidak mengikis jati diri masyarakat Bungo.
Kemajuan teknologi dan perubahan kehidupan masyarakat, kata Dedy, harus dapat berjalan berdampingan dengan pelestarian budaya lokal. Bahkan, kekayaan budaya dinilai dapat menjadi modal dalam mengembangkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
“Kita tidak boleh menutup diri dari perkembangan zaman. Namun, di tengah kemajuan itu, identitas dan budaya daerah harus tetap dipertahankan. Justru budaya bisa menjadi kekuatan untuk menggerakkan pariwisata dan ekonomi kreatif,” katanya.
Dedy juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Jambi, jajaran pemerintah daerah, para pelaku seni, budayawan, pelaku UMKM serta seluruh pihak yang telah berkontribusi sehingga kegiatan tersebut dapat terlaksana dengan baik.
Sementara itu, Gubernur Jambi Al Haris memberikan apresiasi terhadap Pemerintah Kabupaten Bungo yang dinilai konsisten menghadirkan kegiatan yang mengangkat seni dan budaya daerah.
Menurutnya, kebudayaan merupakan bagian penting dari identitas masyarakat yang harus terus diperkenalkan, khususnya kepada generasi muda.
“Saya mengapresiasi kegiatan kebudayaan yang digelar Kabupaten Bungo. Budaya adalah identitas kita. Jangan sampai generasi muda justru lebih mengenal budaya dari luar dibandingkan budaya daerahnya sendiri,” ujar Al Haris.
Al Haris juga menilai keberagaman budaya yang dimiliki kabupaten dan kota di Provinsi Jambi merupakan potensi yang dapat dikembangkan secara lebih luas, terutama untuk mendukung sektor pariwisata.
Melalui kegiatan seperti Jambi Elok Nian, berbagai unsur masyarakat memiliki kesempatan untuk menunjukkan kreativitas sekaligus memperkenalkan potensi daerah. Pelaku seni, budayawan, generasi muda hingga pelaku UMKM dapat mengambil bagian dalam memperkuat ekosistem budaya dan ekonomi kreatif.
Selain menjadi panggung pertunjukan seni, kegiatan tersebut juga menjadi media promosi berbagai potensi wisata serta produk unggulan masyarakat Kabupaten Bungo.
Dengan semangat “Bumi Langkah Serentak Limbai Seayun”, Pemerintah Kabupaten Bungo berharap kebudayaan tidak hanya menjadi warisan yang dijaga, tetapi juga mampu menjadi kekuatan untuk mempererat persatuan masyarakat, mendorong pariwisata dan ekonomi kreatif, serta membawa Bungo semakin maju tanpa kehilangan jati diri daerah.(Didijp)


