• Jelajahi

    Copyright © Media Online
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Teatrikal Pelajar Jambi Soroti PETI dan Kerusakan Lingkungan: “Kami Menolak Dijajah di Negeri Sendiri”

    JambarPost
    8/20/2026, 10:13 WIB Last Updated 2026-08-20T03:13:14Z


    Jambarpost.com, Sarolangun -  Kreativitas sejumlah pelajar di Provinsi Jambi dalam menyampaikan kritik terhadap persoalan lingkungan mendapat perhatian luas dari masyarakat. Pementasan teatrikal yang dibawakan siswa SMAN 1 Sarolangun dan SMAN 5 Merangin itu mengangkat keresahan mengenai aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang dinilai berdampak terhadap kelestarian alam dan kehidupan masyarakat.

    Pertunjukan tersebut ditampilkan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia. Pesan yang disampaikan para pelajar tidak sekadar menjadi pertunjukan seni, tetapi juga menggambarkan keresahan generasi muda terhadap kondisi lingkungan di Jambi.

    Potongan video pementasan kemudian beredar luas di media sosial. Salah satunya diunggah melalui akun TikTok @taufiqfathurrozi dan mendapat perhatian dari warganet. Beragam respons muncul, mulai dari apresiasi terhadap keberanian para siswa hingga dukungan terhadap pesan yang mereka sampaikan.

    Dalam pementasan SMAN 1 Sarolangun, para siswa menggambarkan suasana pilu akibat bencana di kawasan yang dikaitkan dengan aktivitas tambang ilegal. Salah satu adegan memperlihatkan warga membawa keranda sebagai simbol korban yang harus menanggung dampak kerusakan lingkungan.

    Sementara itu, SMAN 5 Merangin menampilkan simbolisasi pencemaran sungai. Seorang siswi diperankan meminum sekaligus membasuh wajah menggunakan air yang digambarkan keruh. Adegan tersebut menjadi gambaran tentang ancaman pencemaran terhadap sumber air yang selama ini menjadi bagian penting kehidupan masyarakat.

    Pesan yang disampaikan semakin kuat ketika para pemeran melontarkan kritik mengenai kondisi lingkungan dan mempertanyakan apakah masyarakat justru sedang mengalami bentuk “penjajahan” di negeri sendiri akibat keserakahan dan eksploitasi sumber daya alam.

    Pada bagian akhir pementasan, salah seorang siswi menyampaikan orasi dengan penuh semangat. Ia menegaskan bahwa generasi muda tidak ingin hanya menjadi penonton ketika kerusakan lingkungan terjadi.

    “Jika kerusakan terus berlangsung, kami akan berdiri dan bersuara. Emas tidak sebanding dengan satu nyawa,” menjadi salah satu pesan yang disampaikan dalam pementasan tersebut.

    Aksi para pelajar itu pun menuai banyak apresiasi. Sejumlah warganet menilai keberanian siswa menyuarakan persoalan lingkungan menjadi pengingat bahwa menjaga alam bukan hanya tanggung jawab pemerintah maupun aparat, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat.

    Pementasan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa seni dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan kritik sosial secara kreatif. Di tengah persoalan kerusakan lingkungan, suara para pelajar itu menjadi pesan bahwa pembangunan dan pemanfaatan sumber daya alam semestinya tetap memperhatikan keselamatan masyarakat serta keberlanjutan lingkungan.

    Bagi para pelajar, kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang perjuangan para pahlawan, tetapi juga keberanian untuk menjaga negeri dari berbagai bentuk kerusakan yang dapat mengancam masa depan generasi berikutnya. (DidiJP)


    Komentar

    Tampilkan